Saya Beruntung Punya Guru Seperti Beliau

Kisah ini saya ambil dari film drama Korea “City Hunter”, dimana Presiden Korea Selatan fiktif dalam film itu menceritakan masa kecilnya. Dengan sedikit penambahan.

Aku pun pernah melakukan kejahatan. Dulu, waktu masih SD, aku hidup dalam kemiskinan. Karenanya ibuku tidak mampu memberi bekal makan siang untuk aku bawa ke sekolah.

Suatu ketika, aku sangat lapar dan tidak bisa menahannya. Aku nekat mencuri makan siang salah satu tamanku dan memakannaya sambil sembunyi. Temanku yag kehilangan bekal makan siangnya itu menangis dan melaporka pada guru. Ketika seluruh kelas ditanyai, aku tidak mengaku dan bersikap sebiasa mungkin agar tidak ketahuan.

Hingga akhirnya guruku menemukan suatu cara. Seluruh anak di kelas diminta menutup matanya dengan kedua tangan. Siapapun pelakunya dipersilahkan mengangkat tangan dan akn dimaafkan. Selama belum ada yang mengaku, semua murid tidak boleh menurunkan tangan dan harus tetap menutup matanya. Meskipun aku tahu, jika aku mengaku, selain guruku, tak akan ada orang lain yang tahu bahwa akulah pelakunya. Aku tetap bersikukuh tidak mengaku.

Awalnya aku berfikir jika tak seorangpun mengaku, guruku akan berubah pikiran dan mengira ada anak dari kelas lain yang mencurinya. Tetapiu aku salah. Guruku terus menunggu hingga ada yang mengaku. Lama kelamaan satu persatu teman-temanku mengeluh dan mulai menangis karena tangan mereka terasa lelah menutup mata. Aku mulai bimbang. Aku juga mulai merasa lelah. Aku mulai pura-pura ikut menangis.

Semakin lama, semakin banyak temanku yang menangis. Aku semakin merasa bersalah. Kini bukan hanya satu temanku yang aku buat menangis karena aku mencuri bekal makan singnya. Tetapi semua teman sekelasku ikut menderita karena perbuatanku. Aku pun menyerah dan mengangkat tanganku sedikit. Tiba-tiba guruku berkata, “Cukup. Anak-anak, maafkan ibu karena telah memaksa kalian. Mulai sekarang, jangan mengungkit kejadian ini dan Ibu berharap semua mau memaafkan teman kalian yang menyebabkan ini meskipun kalian tidak tahu siapa dia.”

Aku pulang dengan penuh tanda tanya. Apakah ibu guru tadi memperhatikan aku mengangkat tangan, atau hanya karena khawatir teman-teman tidak kuat saja?

Sampai di depan rumah, aku melihat sepeda ibu guru diparkir halaman. Aku tidak berani masuk ke rumah dan hanya menunggui di depan pintu. Sampai ibu guru keluar da melihatku. Ia hanya tersenyum, mendekati aku lalu membelai rambutku. Lalu berpamitan pulang. Aku dan ibu memandanginya hingga sepedanya terlihat kecil di ujung jalan. Ibu mengajakku masuk dan bicara padaku.

Aku mengira ibu mau memarahiku, tetapi ternyata tidak.

“Nak, ibu bangga memiliki putra seperti kamu. Ibu guru tadi berkunjung untuk menyampaikan pada ibu betapa pintarnya kamu di sekolah. Katanya, kamu juga anak yang baik dan jujur. Hanya saja, beliau prihatin karena mengetahui Ibu tidak pernah membuatkanmu bekal makan siang. Katanya nutrisi itu penting untuk anak sekolah, dan itu akan membuatmu semakin pintar. Makanya beliau memberi ibu sekarung beras agar ibu bisa membuatkanmu bekal makan siang. Maafkan ibu, Nak. Karena selama ini ibu tidak mampu memenuhi kebutuhanmu.”

Aku tidak mampu menangis. Aku hanya termenung dan sedikit tersenyum untuk melegakan hati ibuku. Ibu menambahkan. “Kamu beruntung punya guru sebaik beliau.”

Ya. Aku sungguh beruntung punya guru seperti beliau. Aku berdoa semoga semua guru di dunia sebaik beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s