Tidak Konsisten

Suatu hari ada 3 orang pelajar mendatangi seorang guru ahli filsafat yag terkenal, namun hidupnya sederhana dan menyendiri.

“Untuk apa kalian jauh-jauh mencari aku?” Tanya Sang Guru.

“Kami ingin belajar filsafat kehidupan dari anda, Guru.” Jawab salah satu pelajar itu.

Kemudian Sang Guru menerima mereka sebagai tamu. Karena hidupnya sederhana, ia perlu memasak air dahulu untuk menyuguhi tamunya. Dalam rumahnya yang hanya satu ruangan itu, ia menyalakan perapian dan memasak air. Berkali-kali ia meniup apinya.

“Untuk apakah Guru berkali-kali meniup apinya?” Tanya pelajar lainnya.

“Oh… aku meniupnya agar apinya membesar dan airnya cepat panas.” Jawab Sang Guru sederhana.

Setelah airnya mendidih dan matang, Sang Guru membuat ramuan teh dan menyajikannya dalam gelas gerabah. Ia mempersilahkan tamu-tamunya minum, namun mereka hanya memegangi gelas karena airnya masih sangat panas. Sang Guru tersenyum dan memberi contoh cara minum minuman yang masih panas. Ia meniup air itu berkali-kali lalu meminum sedikit demi sedikit.

“Untuk apa Guru berkali-kali meniup airnya? Taya pelajar yang satunya lagi.

“Oh… aku meniupnya agar airnya cepat dingin dan bisa aku minum.” Jawab Sang Guru.

Seketika itu juga, ketiga pelajar itu saling pandang dan sepertinya menyepakati sesuatu. Ketiganya dengan wajah kecewa berdiri dan berpamitan.

“Maaf, sepertinya kami salah alamat. Kami tidak jadi belajar kepada anda. Bagaimana mungkin seorang guru yang bijak tidak konsisten seperti anda. Tadi anda meniup agar cepat panas, sekarang meniup lagi agar cepat dingin!”

Setelah ketiga pelajar itu pergi, Sang Guru hanya garuk-garuk kepala. “Apa kesalahanku?”, pikirnya.

***

Siapa yang salah dalam kisah di atas? Tentu saja para pelajar. Mereka sebenarnya belum siap belajar kepada Sang Guru. Baru melihat satu dinamika hukum alam saja, mereka sudah membuat asumsi sendiri. Mereka hanya melihat bahwa Sang Guru meniup, bukan apa yang ditiup dan bagaimana efeknya bisa berbeda.

Dalam pendidikan kepramukaan, banyak metode pendidikan yang disampaikan melalui analogi/ kiasan. Misalnya, upacara pelantikan yang dibuat rahasia dan terkesan ritual yang sakral. Jika kita tidak paham dan tidak mau bertanya, tentu mengira Pramuka melakukan ritual musryik. Tetapi, jika mau berpikir sejenak, ternyata tujuan ritual itu sangat sederhana dan jauh dari kata “musryik”. Hanya sekedar agar berkesan dan menyentuh hati.

Bersabarlah dalam belajar. Nilai filosofis sebuah kejadian tidak semudah itu diambil. Jika tergesa-gesa, maka kita akan mendapat kesimpulan yang sama sekali salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s