Pertolongan Pertama

Pertolongan Pertama (first aid) adalah penanganan awal pada luka atau penyakit. Biasanya dilakukan oleh selain tenaga kesehatan namun terlatih dalam penangan tersebut. Juga biasa dilakukan dalam kondisi darurat dimana tidak ada alat yang memadai atau waktu yang akan terlalu terlambat jika menunggu tenaga kesehatan. Pada beberapa kasus, ada luka/ penyakit yang cukup ditangani dengan pertolonga pertama (PP), tanpa perlu penanganan lebih lanjut. Namun, ada juga yang harus diberi penanganan kesehatan lebih lanjut oleh ahlinya. Tujuan utama PP bukanlah menyembuhkan, tetapi menyelamatka nyawa dan mencegah luka/ penyakit yang lebih parah.

Sejarah Pertolongan Pertama

Catatan sejarah yang menulis tentang PP pertama kali ditemukan pada sejarah peperangan yang terjadi di Eropa pada jaman pertengahan. Kala itu terdapat “Ksatria Hospitaller” pada abad ke-11, yang bertugas menangani peziarah dan ksatria yang terluka. Selain itu juga mengajarkan pada para prajurit tentang cara menangani luka kecil akibat peperangan.

Penanganan PP yang teroganisir berikutnya terlihat pada tahun 1859, ketika Jean-Henri Dunant mengorganisir warga sipil merawat korban Perang Solferino.Empat tahun kemudian diadakan pertemuan antara 4 negara di Genewa dan membentuk organisasi yang saat ini berkembang dan dikenal dengan nama Palang Merah (Red Cross) dengan satu tugas utama “menolong tentara yang sakit dan terluka di medan perang.”. Diikuti terbentuknya St. John Ambulance pada 1877, dan diikuti dengan terbentuknya banyak organisasi sejenis. Tahun 1878 Ahli Bedah Peter Shepherd, dengan Colonel Francis Duncan mencetuskan cara pelatihan PP untuk masyarakat sipil. Dengan banyaknya peperangan di masa lalu, perkembangan ilmu pengetahuan tentang PP semakin berkembang.

Pada masa sekarang, selain organisasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, PP juga dipelajari dan diterapkan dalam pelatihan militer da kepanduan.

Tujuan Pertolongan Pertama

Ada 3 tujuan penanganan PP

  1. Menyelamatkan nyawa, usaha yang dilakukan pertama kali dalam PP adalah memastikan nyawa korban tidak terancam. Jika terancam, maka penolong berusaha mengatasi masalahnya.
  2. Mencegah luka semakin parah, beda konsepnya dengan penyembuhan. Tindakan yang dilakukan hanyalah menjaga agar luka yang diderita korban tidak semakin parah, bukan berusaha menyembuhka lukanya.
  3. Penyembuhan, hal ini diperuntukkan bagi luka yang tidak memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

Prinsip Dasar

Yang paling umum digunakan untuk PP adalah singkatan A-B-C (Airway, Breathing, dan Circulation). Saat memeriksa korban, yang pertama kali diperhatikan adalah jalan napasnya (airway). Jika ada yang menghambat jalan napas (misalnya tersedak) maka harus segera ditangani. Prioritas berikutnya adalah pernapasan (breathing). Gangguan pada pernapasan biasanya ditangani dengan pernapasan buatan. Selanjutnya dicek apakah peredaran darahnya (circulation) lancar dengan merasakan detak jantung atau pada korban dengan luka lebih ringan bisa juga dicek denyut nadinya.

Ada juga yang menambahkan huruf D pada singkatan menjadi ABCD. D untuk Deadly Bleeding, pendarahan yang mematikan. Beberapa organisasi yang fokus pada PP juga ada yang prinsip PP-nya menggunakan singkatan 3B untuk Breathing (pernapasan), Bleeding (pendarahan) dan Brain (otak). Atau dengan 4B ditambah Bones (retak/ patah tulang).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s