10 Mitos Motivasi

Dalam menghadapi kegiatan Pramuka yang berbentuk perlombaan, team/ kontingen dari gugus depan sering melibatkan pembina pembantu/ senior/ alumni untuk membantu latihan. Salah satu peran mereka adalah memberikan motivasi kepada kontingen. Namun, upaya memotivasi tersebut sering diberikan tanpa mempertimbangkan dampaknya atau kurang didasari pada kenyataan yang ada di lapangan oleh mitos belaka.

1. Memberikan hukuman dengan tambahan porsi latihan fisik

Hukuman fisik yang sering diberikan adalah hukuman push up untuk setiap kesalahan yang dilakukan anggota kontingen, misalnya terlambat datang latihan.

Ada dua alasan kenapa bentuk hukuman fisik sangat tidak dianjurkan. Pertama, aktifitas fisik hendaknya dilakukan dalam suasana menyenangkan, sehingga kontingen menjalani latihan fisik dengan sungguh-sungguh dan gembira. Tetapi jika latihan fisik diberikan sebagai bentuk hukuman, yang tentu saja menjadikan kesan latihan fisik tidak begitu dibutuhkan kecuali jika “saya” melakukan kesalahan. Padahal, dalam perlombaan terkadang dibutuhkan kesiapan fisik. Latihan fisik tetap diperlukan, misalnya mengawali latihan dengan pemanasan atau push up bersama-sama dan penuh semangat.

Alasan kedua, tujuan hukuman adalah mencegah munculnya perilaku yang tidak diharapkan. Maka, bentuk hukuman hendaknya berupa pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya diskors untuk tidak ikut latihan.

Pembina/ pelatih yang baik seharusnya mampu menemukan bentuk hukuman yang efektif dan memberikan efek jera.

2. Nasehat pra-kompetisi

Sering ditemui pembina/ senior memberikan nasehat yang panjang lebar menjelang kompetisi dimulai. Namun, perlu dipahami, tidak semua anggota kontingen menyukai sesuatu yang bertele-tele. Mereka perlu fokus terhadap kompetisi yang akan mereka hadapi. Cukup berikan sedikit kata-kata penyemangat.

Setiap anggota kontingen memiliki keunikan tersendiri. Jika memang dirasa ada yang perlu diberi nesehat dengan porsi lebih, jangan dipukul rata. Lebih baik jika nasehat khusus diberikan dengan melihat keunikan tiap anggota kontingan dan tidak dilakukan di depan anggota yang lain.

3. Merendahkan kemampuan lawan

Jangan sekali-kali memberikan motivasi dengan mengungkapkan betapa lemahnya lawan. Atau menyanjung betapa kita jauh lebih tangguh dari lawan. Hal ini bukannya berdampak positif, tetapi justru memberika kerugian dengan alasan:

  • Jika kontingen menyadari setelah melihat kontingen lawan ternyata lebih kompak atau terlihat lebih baik, mereka akan merasa dibohongi.
  • Jika kontingen kalah menghadapi lawan yang sebelumnya diremehkan, mereka akn merasakan kekalahan tersebut sebagai kekalahan besar dan mengendurkan semangat.
  • Adalah sikap yang tidak realistis menganggap seseorang lawan lemah tanpa mempertimbangkan kekuatannya, karena setiap petarung memiliki peluang untuk menang.
  • Peserta didik/ adik kita perlu diajarkan sikap empati dan perasaan menghargai secara timbal balik.

4. Tujuan utama adalah menang

Banyak pembina/ senior, menekankan pentingnya menang. Bahkan sebagian seolah-olah memaksakan peserta didik/ adik tingkatnya untuk selalu menang. Hal ini sesungguhnya dapat menjadi beban tuntutan yang sangat berat bagi kontingen.

Berbagai penelitian menyatakan bahwa menekankan pentingnya untuk tampil sebaik mungkin lebih memberikan dampak positif dalam memotivasi  daripada menekankan atlet untuk semata-mata menang.

5. Memperlakukan anggota secara berbeda

Yang biasa terjadi adalah pembina/ senior memberikan perhatian berlebih ketua kontingan (misalnya pinru atau pinsa). Apalagi hanya denkat dengan anggota tertentu saja dengan berbagai alasan. Sikap ini cenderung melahirkan inkonsistensi dalam penetapan aturan. Inkonsistensi aturan cenderung menurunkan motivasi kontingen secara umum, termasuk anggota yang dianak-emaskan.

6. Tidak mengeluh berarti bahagia

Diam dan tidak mengeluh seringkali dianggap sikap yang tidak bermasalah. Hal ini belum tentu demikian. Anggota kontingen yang sama sekali tidak mengeluh belum tentu merasa bahagia dengan program yang dijalankannya. Karena bisa terjadi mereka yang bersikap demikian justru memiliki sikap masa bodoh dan tidak perduli dengan hasil yang mereka capai, sehingga tidak ada upaya lebih jauh untuk senantiasa memperbaiki peringkat prestasi yang dicapai.

7. Saya lebih tahu

Banyak pembina/ senior beranggapan bahwa pengetahuan mereka jauh melebihi peserta didik/ adik tingkat; di samping itu mereka juga menganggap pengetahuan peserta didik/ adik tingka masih sangat dangkal dan penuh dengan ketidak-tahuan. Tetapi yang sering terjadi adalah pembina/ senior mengalami berbagai hambatan dalam menghadapi peserta didik/ adik tingkat.

Fisher et al. (1982) mengemukakan bahwa pelatih yang memiliki pengetahuan lebih banyak adalah mereka yang biasanya menyempatkan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan atletnya. Jadi, di samping mereka memiliki dasar pengetahuan teoretis, mereka juga mampu memanfaatkan atlet sebagai nara sumber praktis.

8. Ceramah pasca pertandingan

Juga menjadi kebiasaan, nasehat/ wejangan diberikan setelah perlombaan berakhir. Bisa merupa pujian maupun teguran. Anggota kontingen yang baru saja selesai mengikuti lomba tentunya kelelahan, perlu waktu beristirahat atau bahkan perlu mempersiapkan untuk mengikuti lomba berikutnya. Mereka akan lebih peka perasaannya. Apalagi bila diberikan teguran teknis, yang diberikan tidak pada momentum yang tepat justru akan berakibat buruk.

Pujian juga tidak perlu diberikan secara berlebihan. Cukup dengan tersenyum bangga dan acungan jempol (yang agak disembunyikan, pertanda khusus hanya buat mereka) justru akan berakibat baik.

9. Napoleon Complex

Istilah ini diambil dari sikap “bossy” Napoleon untuk menutupi kekurangannya yang bertubuh kecil. Banyak pembina/ senior yang karena tidak mampu memberikan solusi konkret bagi kontingen, menutupi dengan bersikap otoriter bahkan cenderung memarahi atau menyindir dengan bahasa tidak menyenangkan.

Sikap yang menunjukkan bahwa pembina/ senior lebih berkuasa justru membuat peserta didik/ adik tingkat kita malas mendengarkan ceramah dan wejangan kita. Bahkan seringkali merasa muak dengan perilaku pembina/ seniornya.

10. Menanamkan rasa takut

Ancaman dan tekanan sering diberikan oleh pembina/ senior yang bingung mau meberikan apa. Anbil saja contoh kecil, “Saya akan sangat kecewa jika kalian sampai kalah.” Adalah sesuatu yang sangat bertentangan memberikan ancama dan tekanan yang menghasilkan rasa takut (membuat kecewa) jika dalam kompetisi mereka harus menghadapi lawan dengan berani.

(Dari berbagai sumber)

2 pemikiran pada “10 Mitos Motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s