Sekarang Ibu Bisa Mendengarnya

This story has been passed around by e-mail.

Kata-kata itulah yang mengawali email yang saya baca pagi tadi. Ternyata isinya kisah berbahasa Inggris. Kabarnya kisah ini adalah kisah nyata, cuplikan masa kecil Robby, seorang mantan militer yang pernah bertugas dalam operasi Desert Storm.

Robby berusia 11 tahun waktu itu. Ibunya mengantarkannya mendaftar di les piano yang aku kelola. Kata ibunya, ia yakin anaknya akan menjadi pemain piano yang hebat. Apalagi jika ia memulai belajar piano dari usia yang sangat muda. Maka, aku menerima anak itu menjadi muridku. Tetapi sejak awal ia mencoba memainkan piano, aku tahu bahwa ia tidak berbakat sama sekali. Ia tidak bisa merasakan nada dan irama seperti anak lainnya. Aku berpikir tidak ada harapan untuknya.

Lebih dari sebulan aku berusaha bersabar dan memotivasinya. Tetapi benar-benar tidak ada harapan. Permainan pianonya menyakitkan telingaku. kesabaranku rasanya mulai habis. Saat berlatih, ia selalu mengatakan, “Suatu saat ibu akan mendengarkan permainan pianoku.”

Bukannya berprasangka buruk, tetapi aku yakin ibunya juga kecewa padanya. Sejak saat mengantarnya mendaftar les, setelah itu ibunya tidak pernah sekalipun menungguinya berlatih. Seringkali ibunya hanya mengantar sampai depan pintu dan terkadang sama sekali tidak keluar dari mobil.

Suatu hari, Robby berhenti masuk les. Aku berpikir, apakan ia mulai menyadari bahwa ia sama sekali tidak berbakat dan mulai menyerah? Ah, masa bodoh. Aku senang dengan keadaan ini. Adanya Robby di kelasku juga bisa menurunkan penilaian para orang tua pada kemampuan mengajarku.

Satu minggu berikutnya, sekolah musik mengadakan pertunjukan piano. Aku mendatangi rumah setiap muridku untuk membagikan brosur. Dari tumpukan brosur, ternyata Robby termasuk yang mendapatkan brosur tersebut. Saat mengetuk pintu rumahnya yang besar, Robby membukakan pintu dan menyambutku dengan sopan. Aku akui, ia mungkin pemain piano yang buruk, tetapi ia juga anak yang baik, lebih dewasa dari anak-anak seumurnya.

Aku basa-basi bertanya dan memasang wajah sedih, “Kenapa kamu berhenti masuk les piano?”

“Nyonya Hondorf… sudah seminggu ini ibuku sakit, tidak ada yang mengantar aku les piano. Jadi aku berlatih sendiri di rumah.”

“Ohh.. begitukah? Sayang sekali, saya ke sini bermaksud mengantarkan brosur undangan pertunjukan piano. Semua temanmu akan bermain dan keluarga mereka akan menonton.”

Aku kaget melihat senyum kecil di wajahnya. Ia meminta diijinkan bermain juga meskipun ibunya sedang sakit. Sebenarnya bukan soal ibunya atau siapa yang akan mengantarnya yang mengkhawatirkan aku. Permainannya yang buruk akan merusak citraku dan pertunjukan. Tapi entah karena iba atau karena salut atas kesungguhannya, aku mengijinkannya.

***

Tiba saatnya pertunjukkan. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Robby aku beri urutan paling terakhir. Jika permainannya buruk, aku akan segera menutup tirai dan menjelaskan pada penonton alasannya karena ia sedang sedih karena ibunya sedang sakit. Sudah hampir semua murid bermain, teteapi Robby belum kelihatan juga. Aku sedikit khawatir, namun juga lega jika ia mengurungkan niatnya untuk ikut bermain.

Pada saat-saat terakhir Ia muncul. Dan apa-apaan, ia berpakaian kusut dan rambutnya acak-acakan. Kenapa ia tidak berpakain yang rapi dan menyisir rambutnya seperti anak yang lain. Padahal biasanya ia lebih rapi dari pada teman-temannya. Tapi apa boleh buat, ia nyelonong begitu saja dan duduk di depan piano.

“Inilah penampilan penutup kita, dari murid kami yang paling muda, Robby.”

Dalam hati aku berdoa, semoga semua baik-baik saja.

“Robby, apa yang akan kamu mainkan untuk menutup pertunjukan ini?”

“Nyonya Hondorf, saya akam memainkan Mozart Concerto #21 dalam C Mayor.”

Astaga, apa yang ia lakukan. Bahkan murid paling berbakatku saya belum mampu memainkannya. Belum sempat aku bereaksi, tangannya sudah mulai bermain di atas cord piano.

Aku semakin kaget mendengarkan permainannya. Tangannya bermain ringan di pianissimo ke fortissimo… dari allegro ke virtuoso. Belum pernah aku mendengar karya Mozart dimainkan dengan mengagumkan oleh anak seusianya. Setelah bermain selama enam setengah menit, ia menutupnya dengan grand cresendo dan semua penonton berdiri memberikan tepuk tangan meriah.

“Aku tak menyangka kamu bisa bermain sebagus ini, bagaimana kamu bisa melakukannya?”

“Nyonya Hondorf, anda tahu kalau ibu saya sedag sakit. Sebenarnya hari ini beliau meninggal dunia. Sebenarnya sejak beliau mengantarkan aku ke tempat anda mengajar, ia tengah menderita kanker ganas dan menyebabkannya menjadi tuli sejak lahir. Tetapi hari ini, aku yakin ibu bisa mendengarkan aku bermain. Makanya aku harus bermain dengan spesial.”

Dengan tertegun dan tidak bisa berucap sepatah katapun aku melihatnya turun dari panggung dan menghampiri petigas dinas sosial yang tengah mengusap air matanya sendiri. Mereka berdua keluar begitu saja dari gedung pertunjukkan.

Aku bersyukur memiliki murid seperti dirinya. Bukan, akulah yang murid dan dialah guruku. Anak itu telah mengajariku betapa cinta kasih dan kesungguhan bisa merubah sesuatu menjadi luar biasa. Entah bagaimana caranya.

***

(A footnote to this story) After serving in Desert Storm, Robby was killed in the senseless bombing of the Alfred P. Murrah Federal Building in Oklahoma City in April of 1995, where he was reportedly….playing the piano. And now, a footnote to the story.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s